Kawan... jika kau berada di luar pulau kalimantan yang hijau, kemudian kau mendengar bahwa Pontianak terdapat di dalamnya, jangan kau bayangkan kelak kau akan menemukan kota yang asri dengan pepohonan dan taman-taman di sudut-sudut kota . Jangan pula kau bayangkan sungai Kapuas yang berair jernih mengalir dengan riang membahagiakan nelayannya dengan ikannya yang melimpah. Jangan bayangkan...!
Jika kau menapakkan kakimu di kotaku ini, maka jalan Imam Bonjol akan menyambut kedatanganmu dengan wajahnya yang bopeng menyeringai. Disusul jalan Tanjung Pura yang macet dan penuh dengan asap yang siap menggerus paru-paru berhargamu. Tak ketinggalan pasar-pasarnya yang lusuh becek dengan para pelaku kriminalnya yang mengawasimu dari sudut-sudut tak terduga. Belum lagi para pengemis yang dengan bangga mengabdikan diri sebagai orang yang dengan senang hati menunjukkan kepada semua orang betapa tidak mampunya ia mempertahankan hidupnya. Merekalah orang yang lantang menyebutkan bahwa tuntutan ekonomi yang membuatnya seperti itu tanpa pernah mengoreksi diri apakah mereka sudah cukup berusaha untuk mendapatkan yang lebih baik. Sehingga mereka bercokol di tepi jalan dengan gaya orang yang paling ikhlas sedunia menjual harga dirinya demi beberapa receh yang akan diberikan orang kepadanya. Mereka itu orang yang MANJA kawan.
Mungkin kau pernah mendengar tentang keindahan sungai Kapuas kami kawan. Sungai kebanggan kami yang katanya masuk dalam kategori sungai terpanjang di Indonesia itu memang "INDAH" . Jika nanti kau telah tiba di kotaku ini, akan ku tunjukkan padamu tentang "KEINDAHAN" sungai itu yang sesungguhnya. Akan ku tunjukkan padamu air sungai yang berkarat itu mengalir terseok bersama sampah-sampah laksana seorang pengelana berpetualang bersama kudanya. Sampah-sampah itu adalah simbol kejorokan orang-orang malas yang tinggal di kotaku ini kawan. Akan pula ku tunjukkan padamu jamban-jamban "indah" yang berbaris rapi di kiri-kanan sungai laksana monumen-monumen yang mununjukkan betapa tidak pedulinya orang-orang di sekitar sungai itu akan kesehatan. Mereka itulah orang-orang yang selalu berbondong-bondong kebalai pemerintahan menuntut jaminan kesehatan. Padahal mereka sendiri tak ingin menjamin kesehatan mereka. Ini karena apa...???
Yaah... begitulah keadaan kotaku ini kawan. Jangan kau terkejut mendengar ceritaku ini. Kotaku yang dulu bersinar kini telah lelah menunjukkan kemilaunya. Entah karena telah usang di makan waktu atau karena orang-orang di dalamnyalah yang sengaja menarik, menjerumuskan "pontianak malang" ke dalam lumpur hitam perkembangan zaman. Entahlah. Jika nanti kau telah memahami apa yang terjadi di kota ku ini, ku harap kau mau memberiku sedikit saran untuk memperbaikinya.
salam
an article for writing subject
Keren kaka
BalasHapus