BADRUN
Setting menggambarkan suasana rumah yang sangat sederhana di tengah ladang. Rumah itu berlantai tanah, beratap lalang dan berdinding kayu jarang-jarang. Di depan rumah itu ada dipan reot tempat si pemilik rumah merebahkan badan sehabis menggarap ladang. Di samping rumah ada seonggok tanah kuburan. Tempat sang bapak bersemayam melepas lelah untuk selamanya.
Sang anak duduk di dipan depan rumahnya dengan peluh di dahinya. Tampak kelelahan sehabis memanen hasil ladang yang tak seberapa itu. Ia membawa pisang dan ubi. Sesekali terdengar suara batuk Emaknya yang memilukan. Kemudian Emaknya berteriak dari dalam rumah.
Emak : sudah pulang kau run?
Badrun : sudah Mak
Emak : banyak rupanya hasil kebun kita hari ini?
Badrun : lumayanlah Mak, cukuplah buat mengganjal perut hari ini dan esok
Emak : masih ada sisakah untuk dijual? Bera.... uhuk uhuk
Badrun : kalau Emak hendak membeli sesuatu biarlah separo ini dijual aku akan mencari penggantinya besok.
Emak : (berjalan keluar menghampiri Badrun) pergilah kau ke warung jonah sore nanti... uhuk uhuk tukarkan singkong itu dengan beras barang
seliter ... uhuk uhuk
Badrun : (bergerak memapah Emaknya untuk duduk di dipan) bagaimana batuk Emak? Tak jua membaikkah Mak?
Emak : rasa-rasanya penyakit ini ingin menemani Emak sampai liang lahat
Drun tak sedikit pun ia ingin meNinggalkan Emakmu ini.
Badrun : janganlah berkata seperti itu Mak. Jika Emak meNinggal siapa lagi temanku bercengkrama?
Emak : temanmu? Bukakah jika Mak mati tak ada lagi yang menghalangi niatmu untuk pergi ke kota.
Badrun : Mak..
Emak : Emak tau.. sudah lama kau menyimpan keinginan untuk pergi ke kota sana. Mengikuti si Nining itu bukan? Emak tau Drun... Emak tau...
Badrun : sudahlah Mak.... jangan Mak bahas lagi perkara itu.. aku pun ingin melupakannya
Emak : Emakmu ini sebentar lagi akan masuk ke liang lahat... biarkanlah Emak melakukan kebaikan terakhir yang bisa Emak perbuat untukmu...
Badrun : Bisakah Mak tak lagi membicarkan tentang mati?
Emak :Bukankah hanya kematian Emak yang membuka kesempatan untukmu Drun. Makmu ini pun sudah tak lagi berguna untukmu
Badrun : sudahlah Mak...!!!
Emak : bahkan kini kau pun telah berani membentak Emakmu...
Badrun : Mak... bukan Maksudku ingin membentak Emak... aku.. aku hanya terbawa emosi.. maafkan aku Mak
Emak : tak perlu kau meminta maaf pada Emakmu yang tua ini Drun... Emak tau kau pasti emosi , menahan semua keinginanmu yang terhalang Emak itu...
Badrun : Mak... tak jugakah Mak mengerti perkataanku bahwa Mak bukanlah penghalangku...?? Aku menyayangi Emak melibihi cintaku kepada diriku sendiri...
Emak : kepada si Nining itu?
Badrun : bahkan melebihi sayangku kepada Nining (perlahanan menyebut nama)
Emak : benarkah?
Badrun : benar Mak
Emak : perempuan itu... Mak tau... dialah yang mempengaruhi untuk meNinggalkanku... sejak bertemu dengan dialah kau berubah Drun... menjadi sok mampu... sok kaya...
Badrun : bukan seperti itu Mak.. dia hanya memberitahuku tentang nikmatnya kehidupan yang tak hanya berkutat dengan tanah dan pacul..
Emak : itulah... kau diiming-iminginya kesenangan palsu. Dia hanya ingin kau mengikutinya... menjadi kacungnya... Penjilat...
Badrun : Mak... janganlah Mak berbicara seperti itu... tak baik kedengarannya...
Emak : kau masih muda... masih hijau... tau apa kau tentang baik dan buruk??? Makmu ini sudah puas makan asam garam kehidupan. Dan kau hendak mengajariku tentang kebaikan pula... si Nining itulah pasti yang mendiktemu seperti itu
Badrun : Nining gadis yang baik Mak... tak sedikit pun di hatinya terbersit keinginan untuk menghancurkan orang.
Emak : dan sekarang kau membelanya pula.... Sungguh pintar si Nining itu mempengaruhimu sebegitu dalamnya..
Badrun : aku tak membelanya Mak... semua yang kuomongkan itu adalah faktanya.
Emak : fakta yang tampak di matamu... tapi tidak di mata Emakmu ini.
Badrun : Mak...
Emak : kau mencintainya bukan?
Badrun : tidak Mak... aku tak berani berlaku seperti itu... tapi kurasa aku menyukainya.
Emak : itulah... rasa sukamu itulah yang dimanfaatkannya untuk menguasai pikiranmu..
Badrun :mungkin lebih baik Mak beristirahat... Mak sudah terlalu letih hingga berbicara meracau seperti itu
Emak : tentu... tentu Mak akan beristirahat.... beristirahat selamanya dan tak lagi menjadi bebanmu....dan kau bisa bebas pergi ke tempat yang katamu dapat merubah nasib kita.
Badrun : (menghela nafas) aku takkan meNinggalkanmu sendirian Mak... Bahkan jika nanti Mak telah meNinggalkanku tuk selamanya. Aku akan tetap merawat makam Emak. Tak akan ku biarkan Emak sendiri di sini. Aku janji Mak..
Emak : jangan mengucapkan hal yang tak mungkin kau lakukan Drun...
Badrun : aku sungguh-sungguh Mak... atas nama Tuhan...
Emak : jangan kau bawa-bawa Tuhan...sudahlah Drun... Emakmu ini tau pasti apa keinginanmu. Dan Emak tak akan lama lagi menjadi penghambat jalanmu... percayalah Drun... bersabarlah...
(HENING SEJENAK, tiba-tiba datang Nining membawa Makanan)
Nining : Assalamualaikum...
Emak : (dengan sinis) perempuan itu....
Badrun : (menoleh ke Emaknya) Maaak...
Nining : (memberikan bawaannya kepada Emak) ini Mak... panganan dari ibu...
Emak : (tanpa menerima pemberian Nining ) papah Emakmu ini ke dalam. Mak ingin berbaring. Lelah rasanya tubuh reyot ini menahan gerah yang tiba-tiba datang. (sambil melirik Nining )
Badrun memapah Emaknya masuk kedalam rumahnya. Kemudian keluar lagi menemui Nining.
Badrun : duduklah Ning...
Nining : terima kasih bang (sembari duduk)
Badrun : maafkan Makku Ning... kau tau sendirilah Makku itu seperti apa... kau Maklumi sajalah...
Nining : iya bang... aku pun tak menaggapinya...toh sudah biasa seperti ini...
Badrun : aku jadi tak enak hati padamu Ning...
Nining : sudahlah bang... jangan kau bahas... bagaimana kesehatan Mak mu? SEmakin membaikkah?
Badrun : yah... seperti itulah... sudah berbotol-botol obat O Be Ha ditegaknya... tak juga batuk itu hilang... aku serasa hilang akal
Nining : tidakkah kau membawanya berobat bang?
Badrun : obat O Be Ha itulah obat yang selalu kuberi
Nining : Maksudku... dibawa berobat ke puskesmas atau kerumah sakit bang...
Badrun : bagaimana mungkin aku membawanya berobat? Untukkan Makan saja kami hanya mengharap dari hasil ladang. Mau bayar pakai apa nanti? Singkong? Atau pisang-pisang ini? (sambil menunjuk pisang bawaannya tadi)
(Nining hanya diam)
Badrun : oh ya… sampai kapan kau di kampung ini ?
Nining : nanti malam aku sudah harus kembali ke kota bang… besok aku sudah masuk kerja. Jadi kau menyusulku ke kota?
(heNing sejenak, tiba-tiba terdengar suara dari dalam)
Emak : apa ku bilang...!!
(heNing lagi)
Badrun : aku tak tau Ning...
Nining : pikirkanlah matang-matang bang... pikirkan apa yang bisa kau raih di kota sana. Kau bisa mendapat uang yang banyak. Kau bisa membawa ibu berobat. Bahkan mungkin bisa kita gunakan untuk menikah.
Badrun : menikah?
Nining : kenapa? Kau tak ingin menikah denganku??
Badrun : bukan begitu Ning.. aku hanya.... ehm... hanya...
Nining : hanya apa bang? Kau bimbang?
Badrun : aku takut Ning...
Nining : apa yang kau takutkan?
Badrun : aku takut kau akan menderita hidup bersamaku Ning... kau lihat sendirilah keadaanku... tak punya uang.. Emakku sakit-sakitan... bagaimana hendak menikah? Jangankan untuk menghidupimu... untuk membayar penghulu saja aku tak mampu... akan menjadi suami seperti apa aku nanti?
Nining : tapi kita bisa usaha bang. Kita bisa mencari uang di kota. Di sana apapun bisa menjadi uang. Asal kau giat saja.
Badrun : lantas meNinggalkan kampung ini? MeNinggalkan Emakku yang sakit-sakitan itu di gubuk reyot ini tanpa ada yang menjaganya? Itu mustahil aku sudah berjanji akan menjaganya seumur hidupku... aku tak mungkin mmeNinggalkannya
Nining : kau pun sudah berjanji padaku
Badrun : apa? Janji? Kau mengarang Ning.. aku tak pernah menjanjikan apapun padamu... karena aku tau aku tak pantas berjanji...
Nining : kau lupa? Hah?? Kau lupa bang?
Badrun : aku tak pernah membuat janji padamu...
Nining : kau lupa ketika kau mengatakan padaku bahwa kau akan menemaniku sepanjang waktu? Kau lupa ketika kau mengatakan bahwa kau akan menjagaku? Membahagiakanku? Kau lupa Bang??
Badrun : aku tak pernah berjanji apapun padamu...
Nining : lalu saat itu apa? Apa kau akan mengatakan bahwa kau sedang bermimpi dan mengigau??
Badrun : baiklah... memang aku pernah mengatakan bahwa aku akan menemanimu.. tapi...
Nining : kau harus menepati janjimu bang... aku sudah menaruh harap padamu...
Badrun : aku tak berjanji. Dan aku juga tak pernah menyangka keadaanya akan seperti ini. Waktu itu Mak masih sehat. Masih dapat ku tinggalkan kemana-mana tanpa harus khawatir. Kau harus mengerti keadaanku Ning...
Nining : kau yang harus mengerti keadaanku... kau harus segera mengambil keputusan atau kau akan kehilangan aku...
Badrun : kehilanganmu...? Maksudmu...
Nining : jika kau tak memutuskan untuk menikahiku... aku akan dinikahkan dengan orang lain bang... dan dialah yang akan menjemputku kembali ke kota sore ini...
Badrun : kau akan menikah dengan orang lain? Siapa yang....
Nining : orangtuaku yang memutuskan... mereka bosan melihat hubungan kita yang tak jelas....
Badrun : tapi kau tidak bisa.... kau milikku...
Nining : nikahilah aku...
Badrun : aku tak bisa memutuskan semua ini dalam keadaan seperti ini Ning... lagipula aku belum punya apa-apa untuk menghidupimu kelak...
Nining : kau harus mengambil resiko..
Badrun : aku tak bisa Ning... aku masih punya Emak yang menjadi tanggunganku... tambah satu nyawa lagi bisa-bisa tak becus aku mengurusnya...
(terdengar lagi suara Emak dari dalam rumah)
Emak : Emakmu ini tak akan lama lagi menjadi penghalang mu Drun... percayalah Drun... bersabarlah.. uhuk uhuk
(Nining dan Badrun terdiam sesaat)
Nining : kau dengar itu bang? Emakmu sudah mengikhlaskanmu...
Badrun : mengikhlaskan? Tak kah kau dengar rintihan putus asa dan kesepian yang mendalam dari suaranya Ning? Tidakkah kau dengar?
Nining : aku tak mendengar yang seperti itu... kau terlalu mendramatisir... yang tak ada kau bilang ada... aku tau kau ingin mengelak bukan?
Badrun : tak kusangka kau berpikiran seperti itu Ning...
Nining : sudahlah bang... aku tak mengerti kau... katamu kau cinta aku... kuminta kau menikahiku... kau bilang kau tak bisa... aku jadi ragu padamu... mungkin baik kuterima saja tawaran orang tuaku. Kurasa itu yang terbaik buat kita. Aku tak akan dirong-rong orang tuaku dan kau tetap dapat mengabdikan hidupmu pada Mak mu di sini...
Badrun : berilah aku waktu berpikir Ning...
Nining : baiklah bang.... aku mengerti akan keputusanmu... sebelum berangkat aku akan pamit terlebih dahulu padamu. Sekarang aku pulang dulu. Ibu sudah menungguku di rumah.
Badrun : Ning....
Nining : aku pulang bang...
(kemudian Nining pergi)
Badrun merenung.... hari merambat sore... lalu Badrun masuk ke rumahnya...
Badrun : Mak... aku akan ke warung sebentar... menukarkan pisang ini dengan apa yang bisa kita tukar...
(Badrun OUT. Dari dalam rumah terdengar suara Emak terbatuk-batuk. Ternyata obat pereda batuknya habis)
Emak : uhuk… uhuk… uhuk… (terus terbatuk-batuk hingga keluar darah dari batuknya itu. Lalu Emak terjatuh. Emak mati)
(Badrun sudah kembali dari warung membawa beras hasil barternya, sampai di depan rumah Badrun kaget melihat Nining datang bersama seorang lelaki yang tak Badrun kenal)
Nining : bang.. Badrun...
Badrun : Nining... kau...
Nining : ini bang cipto calon suami pilihan orang tuaku bang… aku kesini hendak pamit kembali ke kota... kami akan menikah di sana... keluarga bang cipto yang menginginkannya...
Badrun : tapi... tapi aku yang akan menikahimu Ning...
Nining : ku kira kau akan menepeti janjimu pada Mak mu bang... aku memahami situasimu dan aku tak akan menuntut kau untuk menikahiku lagi... aku tak ingin jadi egois bang...
Badrun : katamu kau mencintaiku Ning...
Nining : tentu saja... tapi kini aku sudah tak boleh lagi bang aku telah menerima pilihan orang tuaku...
Badrun : tapi kita sudah berjani
Nining : janji? Bukankah kau yang mengatakan bahwa kita tak pernah berjanji apapun?
Badrun : Ning...
Nining : sudahlah bang...ini saatnya kau menepati janjimu pada Emakmu... kau bukan pecundang yang mudah ingkar janji bukan? Apalagi kepada ibumu...
Badrun : Ning... jangan pergi Ning...
Nining : aku harus bang... doakan aku bahagia... aku pergi...
(Nining berbalik pergi)
Badrun :Ning..Nining...niniiiiiiiiiing.......... arrrrrrrrrrggggggggggghhhhhhhhh……….
Badrun : kau lihat Mak… aku tak jadi ikut dengan Nining... ku biarkan dia pergi... kau dengar... kutepati kata-kataku untuk menemanimu Mak…. Senang kau sekarang… senang kau Mak…… aaaaarggggggghhhhhhhhhhhhhh
(Badrun mengamuk sejadi-jadinya menyesali kepengecutannya. Kemudian ia terdiam. Ia baru sadar suara Emaknya tak terdengar sama sekali. Mendadak ia seperti tersambar petir. Badannya mengaku. Kemudian dengan membabi buta ia masuk ked alam rumah. Firasat buruk mendadak menghampirinya.)
(dari dalam rumah)
Badrun : Mak… Mak… apa yang terjadi Mak... Mak.. bangun Mak... Mak... jawab aku Mak... maaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkk.....
(LIGHT OUT)
(LIGHT ON)
Setting ditambah dengan satu Makam lagi disebelah Makam yang sudah ada.
Badrun meratapi nasib diatas Makam Emaknya.
Badrun : Mak... cepat betul kau meNinggalkan aku... anakmu yang bodoh ini bahkan tak sempat mendengarkan pemintaaan terakhirmu... belum sempat juga aku mengucap maaf atas semua salahku... maafkan aku Mak...
(Badrun mencabik-cabik tanah, menggaruk-garuknya, Badrun bertingkah seperti orang gila saking tertekannnya dengan situasinya sekarang. Ia depresi)
(tiba-tiba Badrun menemukan sebilah parang yang biasa ia pakai untuk membersihkan rumput liar dari Makam bapaknya.. diraihnya parang itu, kemudian……….
Badrun : sekarang saatnya aku menepati janjiku kepada mu Mak… aku akan terus menemanimu bahkan ketika kau meNinggalkanku untuk selamanya…toh tak guna juga aku tetap bercokol di gubuk reyot ini. aku akan menemanimu Mak…. Maaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkkkk kau dengar aku… MMMMaaaaaaaaaaaaakkkkkkk…. Owh… ha ha ha… tentu saja kau tak mendengarku… kau dibawah tanah sana dan aku diatas... ha ha ha... tunggu aku Mak… aku akan segera menyusulmu... arrrggggggggggghhhhhhh…. (Badrun meraung keraaaaaasssss…………)
LIGHT OUT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar